Pages

Kamis, 10 Januari 2013

Titik 0 Kilometer kota Bandung



Perjalanan napak tilas sejarah kota Bandung mungkin bisa dimulai dari Titik Nol Kilometer ini. Karena Titik Nol ini masih dianggap sebagai titik pusat pembangunan kota Bandung. Sejarah dibalik tugu yang tingginya kurang lebih 1 meter ini cukup menyimpan sejarah panjang pembangunan kota Bandung. 

Dahulu ketika Belanda masih menguasai sebagian besar wilayah Indonesia, Gubernur Jenderal Belanda, Mr. Herman Willem Daendels memerintahkan untuk membangun jalan raya sepanjang 1000 km, termasuk Jalan Raya Pos di Bandung yang sekarang berubah nama menjadi Jl. Asia Afrika. Ketika mengunjungi Bandung, Daendels dan Bupati Bandung, Wiranatakusumah II; meresmikan Jembatan Cikapundung, lalu Daendels berbicara dalam bahasa Belanda, “Usahakanlah, jika saya kembali, di sini telah dibangun sebuah kota”. Sabda Daendels ini konon diucapkan sembari menancapkan tongkat di sebuah titik, yang akhirnya disebut sebagai Titik Nol Bandung tersebut. Dari sini pun, berkembang anggapan bahwa Titik Nol adalah titik balik pembangunan Bandung.
herman willem daendelss
herman willem daendelss
Selain titik nol kilometer, masih banyak bangunan bersejarah yang ada di sekitaran jalan Asia Afrika ini. wilayah yang dulunya ini bernama De Grote Postweg dikelilingi oleh bangunan-bangunan bersejarah bergaya Art Deco, seperti Gedung Merdeka atau Museum Asia Afrika, tempat berlangsungnya Konferensi Asia-Afrika 1955. Kemudian ada The Majestic Braga, dulunya bernama Pusat Budaya Asia Afrika yang digunakan untuk gedung bioskop para penguasa zaman Belanda.

Adapun Stoom walls yang berada tepat di belakang tugu titik nol kilometer ini, konon katanya stoom pertama yang dipakai untuk meratakan jalan saat Bandung dibuat. Lalu tanda “CLN 18″ pada tugu menunjukan bahwa kota/daerah terdekat ke arah timur adalah Cileunyi, dengan jarak 18 km. Sedangkan “PDL 18″ menunjukan bahwa kota/daerah terdekat ke arah barat adalah Padalarang dengan jarak 18 km.


Sebuah tugu hanyalah simbolisasi, simbolisasi dimana ada sebuah nilai History yang terkandung didalamnya. Seperti tugu titik nol kilometer ini, bagaimana perjuangan orang-orang dahulu membuat pondasi pertama pembangunan kota ini, berbalut tirani para penjajah yang tidak mengenal kemanusian. Darah, keringat dan pengorbanan mereka selama bertahun-tahun sebagai budak semoga tidak percuma begitu saja. Kita kenang dengan semangat patriotisme menjaga dan merawat kota ini jangan sampai rusak di masa depan. Dengan begitu kita menghargai  masa lalu dan manatap masa depan penuh dengan optimisme.



Sumber : mbandung.com

0 komentar:

Posting Komentar